Duduk Perkara Konflik Indonesia-China di Perairan Natuna

Kapal China Coast Guard dianggap melanggar ZEE Indonesia di Kepulauan Natuna (foto: Antara)

Jakarta, Maritimindonesia.co.id – JURU BICARA Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang menolak tuduhan Pemerintah Indonesia telah melanggar batas teritorial di perairan Natuna. Menurut Geng, posisi China sejalan dengan hukum internasional, termasuk Konvensi PBB tentang Hukum Laut, yang juga dikenal sebagai Unclos 1982.

“Apakah Indonesia menerimanya atau tidak, itu tidak dapat mengubah fakta obyektif bahwa China memiliki hak dan kepentingan di wilayah tersebut,” kata Geng Shuang pada konferensi pers seperti dikutip South China Morning Post, Jumat (3/1).

Geng Shuang (foto: Fmpcr.gov.cn)

Sebelumnya, pada Kamis (2/1), Indonesia melayangkan protes kepada China terkait kapal penjaga pantai negeri tirai bambu itu yang dianggap memasuki wilayah Indonesia secara illegal di Perairan Kepulauan Natuna. Indonesia menganggap China melanggar batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sebagaimana kesepakatan internasional di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kepulauan Natuna terletak sekitar 1.100 km (684 mil) selatan Kepulauan Spratly di Laut China Selatan. Di Kepulauan Spratly, China, Vietnam, Taiwan, Filipina, Malaysia, dan Brunei semuanya memiliki klaim di jalur air yang disengketakan.

Dalam keterangannya, Kementerian luar negeri Indonesia menyebut sikap China yang masuk ke ZEE bertentangan dengan aturan hukum internasional yang sudah menjadi kesepakatan anggota-anggota PBB. Indonesia juga manganggap klaim China atas perairan Natuna tidak memiliki dasar hukum dan tidak sesuai dengan konvensi maritim PBB sebagaimana diatur dalam Unclos 1982.

Jakarta menilai klaim Beijing di wilayah Laut China Selatan sudah ditolak sejak 2016 atau pasca keluarnya keputusan Pengadilan Arbitrase Internasional di Den Haag di Belanda.  Saat itu, Filipina menggugat klaim China atas kawasan tersebut dan mengadukannya kepada Pengadilan Arbitrase. Namun meskipun pengadilan sudah mengambil keputusan, China justeru menolaknya.

Dalam kasus yang sama, Jakarta berulang kali berbeda pendapat dengan Beijing mengenai hak penangkapan ikan di sekitar Kepulauan Natuna. Indonesia berulang kali menangkap para para nelayan China yang masuk perairan Natura dan menempatkan lebih banyak personil Angkatan Laut di kawasan tersebut.

Gregory Raymond, pengamat masalah keamanan Asia Tenggara di Australian National University (ANU),  Canberra, Australia, mengatakan, “Saya pikir Indonesia sudah terang-benderang mengajukan protes soal ‘klaim historis’ di perairan Kepulauan Natuna yang tidak sejalan dengan Unclos, dan juga mengacu pada keputusan Pengadilan Arbitrase Internasional tahun 2016,”  

Peneliti Senior CSIS, Evan Laksamana, berpendapat Indonesia sudah lama mengajukan protes terhadap sikap Beijing tersebut.  

“Dalam kasus yang sama, Indonesia berulang kali mengajukan protes diplomatik, namun hal itu terus terjadi,” katanya.

Evan menilai protes Indonesia terhadap klaim historis China di Perairan  Kepulauan Natuna merupakan bentuk ‘kejengkelan’ terhadap kasus yang sama.  

Sementara itu, Analis Pertahanan Senior di Think Tank Rand Corporation yang berbasis di AS, Derek Grossman, mengatakan nelayan China masih akan melakukan kegiatan penangkapan ikan di perairan Natuna. Karena itu, Indonesia harus menemukan cara meningkatkan patroli laut dan penegakan hukum di wilayah tersebut .

“Saya pikir, dalam beberapa minggu mendatang China akan mencegah nelayannya menangkap  ikan di perairan tersebut untuk menghindari konflik dengan Indonesia,” katanya.

Namun demikian, menurut Grossman, dalam jangka panjang persoalan ini akan terus meruncing mengingat klaim China atas Kepulauan Spratly.

“Ini sebenarnya mengherankan.  Yang dilakukan Beijing itu justeru ketika negara-negara ASEAN dan China tengah membahas masalah kode etik di Laut China Selatan, ”kata Grossman.

Sikap China, menurut Grossman, bisa jadi mendorong Indonesia berpihak pada Vietnam untuk kasus sengketa di Laut China Selatan.*** [Hafid]

Sumber: South China Morning Post

Selanjutnya: Konflik Berkepanjangan di Laut China Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *