Humor: Seleksi Pegawai Pelabuhan

Pegawai Pelabuhan (1)

Empat orang calon pegawai Pelindo bertemu dalam sebuah undangan wawancara. Keempatnya berasal dari daerah yang berbeda: Ambon, Batak, Jakarta, dan Manado

Ambon: Bakarbessy (Sambil berjabat tangan)

Batak: Batubara (Sambil berjabat tangan juga)

Jakarta: Abu Bakar (sambil mengatupkan tangan)

Calon pegawai asal Manado bingung sebab tiga orang teman yang baru dikenalnya memperkenalkan diri dengan barang panas semua. Tanpa pikir panjang, dia pun mengulurkan tangan , “Air Mandidi”

Pegawai Pelabuhan (2)

Di ruang lainnya, tiga orang calon pegawai Pelindo juga saling memperkenalkan diri.

“Saya Sutejo dari Surabaya,” salah seorang dari mereka memperkenalkan diri.

“Saya Joko asal Jogja,” kata calon pegawai yang satunya lagi

Calon pegawai yang ketiga bingung, semua nama Jawa. Akhirnya dia pun tetap menyebutkan nama, “Daeng Syam asal Solo,”

“Wah, Daeng dari Solo?” tanya calon pegawai lain penasaran.

“Iya, Solo Wesi..” kata Daeng Syam sambil tersenyum.

Burung Beo Ateng

Ateng punya seekor burung beo yang sangat pandai. Dia sangat penurut jika disuruh Ateng. Nah siang itu si Ateng melatih beonya agar semakin fasih dalam berbicara. Sehingga ketika seorang tukang becak lewat, si Ateng membisikan sesuatu kepada burung beonya.

Ateng : “Beo , ayo teriak ke tukang becak. B*go lu!”

Beo : “Tukang Becak, B*go lu ”

Tukang becak pun kebingungan mencari arah sumber suara itu di buat. Dan akhirnya dia pergi karena tidak menjupai seorang pun. Lalu lewat lagi tukang Bakso. Dan Ateng pun mengatakan hal yang sama kepada Beo nya

Beo : “Tukang Bakso, B*go Lu ” (dengan lancarnya menirukan suara majikannya)

Tukang bakso pun kebingungan, karena dia tidak melihat seorang pun, dia ngibrit karena takut . Tak selang beberapa lama lewat lah seorang preman yang berbadan besar dengan tato yang menyeramkan.

Ateng : “Ayo beo katakan lagi. Preman kampung, B*go lu”

Beo : (Menoleh ke arah Ateng) “Lu aja coba, berani kagak?”

Ateng : @#$%^&*(*&^%$

Tetap Indonesia

Mukidi dan Jaya tetangga berdekatan. Tapi dua-duanya tidak rukun. Mukidi beli sepeda baru, Jaya juga. Mau lebaran, Jaya ngecat rumah pake warna merah, Mukidi juga ngecat rumahnya pake warna merah.

Nah pas menjelang 17 Agustus, Jaya pasang spanduk di depan rumahnya, “Indonesia Tetap Jaya”

Mukidi tak mau kalah, dia pasang spanduk juga depan rumahnya. “Indonesia Tetap Mukidi”*** [Salsa | dari berbagai sumber]



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *