Kantongi Kontrak Triliunan Rupiah, Industri Galangan Diprediksi Tumbuh di 2020

Jakarta, Maritimindonesia.co.id – IKATAN Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) meyakini industri galangan kapal nasional bakal lebih bergairah pada tahun depan. Pasalnya, perusahaan-perusahaan pelayaran swasta dalam negeri berkomitmen untuk memesan kapal baru di galangan nasional.

Ketua Umun Iperindo Eddy Kurniawan Logam mengutarakan, pihaknya bersama Indonesian National Shipowners Association (INSA) sudah sejak lama mendorong agar perusahaan pelayaran nasional dapat kebijakan yang sama seperti di luar negeri terkait pinjaman bank untuk pembelian kapal baru, yakni bunga rendah dan tenor panjang. Saat ini, kebijakan yang diharapkan itu mulai menemui titik terang.

“INSA berkomitmen akan membangun kapal dalam negeri dengan catatan perbankan mendukung dengan pengembalian jangka panjang 12-15 tahun dan bunga single digit,” ungkap Eddy di Jakarta, akhir Desember lalu.

Dia menambahkan, potensi permintaan pasar untuk kapal baru dari perusahaan pelayaran nasional sangatlah besar.

“Jadi, kami tidak hanya fokus pembelian kapal dari pihak pemerintah atau BUMN saja, tapi sektor swasta kita lihat peluangnya besar sekali. Itulah yang akan kita mulai gali bersama-sama dengan dibantu lembaga finansial, yakni perbankan,” imbuh Eddy.

Selain itu, ungkap dia, yang membuat tahun 2020 menjadi lebih bergairah untuk industri galangan kapal adalah mulai dibukanya lelang pembuatan kapal yangdari PT Pertamina Trans Kontinental.

“Kami lihat prospek pembangunan kapal di 2020 ini akan cukup baik. Pertamina Trans Kontinental sedang mengumumkan tender dengan jumlah yang cukup banyak. Belum lagi kita lihat kebutuhan dari Angkatan Darat dan Angkatan Laut di tahun 2020 juga akan bertambah,” terang Eddy

Kontrak Rp 6 Triliun

Optimisme yang sama juga diungkapkan Direktur Keuangan PT PAL Indonesia, Irianto Sunardi .  Menurut Irianto, pendapatan perusahaan galangan pelat merah ini diperkirakan mencapai Rp 2 triliun hingga Rp 2,3 triliun.

Terlebih, pada 2019 lalu, perusahaan pelat merah ini sudah mengantongi kontrak pembangunan kapal baru senilai Rp 6 triliun.

Untuk mengejar target pendapatan, PAL Indonesia mengandalkan segmen usaha lainnya, yakni usaha pemeliharaan dan perbaikan (harkan) atawa docking.

Lini usaha tersebut diyakini mampu memberikan pendapatan berulang dengan jangka waktu yang cepat (fast cash). Hal ini didukung oleh adanya kewajiban pemeliharaan kapal secara berkala oleh pemerintah.

Seperti yang diketahui, Pasal 30 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 mewajibkan setiap kapal yang telah memiliki sertifikat keselamatan untuk dipelihara (docking) secara berkala dan sewaktu-waktu.

Terlebih, jumlah kapal di Indonesia terbilang cukup banyak. Berdasarkan catatan Indonesian National Shipowner’s Association (INSA), kapal yang tergabung di dalam asosiasi mencapai 24.000 unit.

Namun demikian, Irianto tidak memungkiri bahwa pendapatan yang diperoleh dari lini usaha harkan memang lebih rendah dibanding lini usaha pembangunan kapal baru dan belum bisa menutup biaya operasional galangan kapal.

Faktanya, bisnis pembangunan kapal baru memang merupakan segmen usaha utama PAL Indonesia. Pada tahun 2019 saja misalnya, sekitar 80% pendapatan perusahaan tercatat berasal dari lini usaha pembangunan kapal baru.

Adapun kapal baru yang diproduksi meliputi  kapal perang seperti kapal selam, kapal cepat rudal (KCR), kapal bantu rumah sakit (BRS), dan kapal landing platform dock (LPD). Kapal-kapal tersebut dijual kepada Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan TNI AL.*** [Shahnaz]

Sumber: Beritasatu | Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *